Uncategorized

Cerita Bayu Seto, Ex-Director Grab Indonesia, Ahli Transformasi Bisnis

Perkembangan industri di era yang semakin digital menuntut perusahaan harus gesit dan bisa beradaptasi dengan lingkungan. Transformasi bisnis dibutuhkan untuk menghadapi disruption dan melayani konsumen yang semakin menginginkan kecepatan dan proses yang simple. Apa Anda punya mimpi untuk berhasil membangun perusahaan yang gesit dan tangguh? Kisah Bayu Seto, mantan Country Business Development Director Grab Indonesia, bisa menjadi inspirasi.

Bayu Seto pernah berhasil mengubah beberapa perusahaan dan mendorong pertumbuhan bisnis mereka. Pria kelahiran 34 tahun silam ini sekarang menduduki posisi Chief Commercial Officer di Gig by Indosat Ooredoo. Tentu, ada banyak tantangan yang ia lalui untuk mencapai kesuksesan. Kepada Parish & Co., ia menceritakan perjalanan kariernya yang penuh dengan “blessing in disguise”.

Awal Sederhana yang Penuh Makna

Perjalanannya dimulai secara humble setelah lulus dari Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2007 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 2,1. Lulus dengan IPK yang tidak terlalu bagus dan 5 tahun masa studi, Bayu pernah merasa kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Panggilan kerja pertama yang ia dapat berasal dari CV Akal Cahaya Media Advertising, perusahaan kecil di Bandung, untuk menjadi sales agent dan telesales. Kegiatannya sehari-hari adalah menawarkan media iklan ke restoran atau obyek wisata yg mau iklan di media kita.

Penghasilannya kurang lebih Rp 1.200.000 per bulan (mencakup gaji pokok Rp 500.000, uang jalan sekitar Rp 200.000 dan bonus atau komisi). Bayu sempat menganggap kariernya sebagai sales agent dan telesales saat itu yang buruk dan ia bahkan malu untuk bertemu teman. Sekarang pendapatnya sudah berubah 180 derajat.

“Sekarang sadar bahwa itu karier termahal saya. Kenapa? karena dari situ saya belajar banyak. Saya benar-benar belajar dari bawah. Saya start karier saya dari scratch,” kata Bayu.

Setelah bekerja hampir 1 tahun di Bandung, Bayu merantau ke Jakarta untuk bekerja dan kuliah Bayu bekerja di 2 perusahaan, Octobrand dan Indonet, sambil melanjutkan kuliah magister pemasaran di Prasetya Mulya Business School. Di kedua perusahaan tersebut, ia mendalami research. Ia magang sebagai peneliti di Indonet dan juga menjadi peneliti (baca: membagikan kuesioner) dalam proyek penelitian Word-Of-Mouth di Octobrand.

Turning Point: Berkenalan dengan Transformasi Bisnis dan Masuk Tingkat Manajemen

Setelah tamat belajar di Prasetya Mulya, Bayu memilih bekerja di Gunung Sewu Kencana. Ia bercita-cita untuk terjun di dunia marketing dan branding, tapi ia malah menangani perkebunan nanas di lokasi yang dapat dijangkau sekitar 2 jam perjalanan dari Bandar Lampung. Perkebunan tersebut milik anak perusahaan Gunung Sewu Kencana, Great Giant Pineapple, yang merupakan perusahaan nanas terbesar ke-3 di dunia.

Bayu harus mengakrabkan diri dengan persoalan operasional plantation selama 4 bulan. Akan tetapi, masa itu mempersiapkannya untuk ‘naik kelas’. Great Giant Pineapple berusaha melakukan transformasi. Untuk mencapai tujuan itu, perusahaan mendapat bantuan dari konsultan. Bayu di-interview dan berhasil masuk ke dalam tim corporate strategic planning yang dipimpin oleh mantan associate McKinsey, Antony Wangsanata, alumnus Stanford University dan University Wisconsin-Madison.

Itu momen pertama kali ia masuk ke manajemen. Selama berada di bagian corporate strategic planning, Bayu belajar tentang manajemen, bagaimana mentransformasi perusahaan, dan melakukan optimalisasi operasi. Ia juga bisa bertemu dengan banyak konsultan. Selain itu, yang tidak kalah berharga, ia mengasah keterampilan presentasi. Akhirnya, ia mendapat exposure kepada petinggi perusahaan, seperti CEO dan pemilik perusahaan — pengalaman yang sangat berharga untuk menyampaikan ide kepada top management.

Pengembangan Bisnis di Korporasi

Pada tahun 2011, Sinar Mas Land sedang mencari manajer Program Management Office (PMO) untuk mentransformasi perusahaan. Kriterianya adalah kandidat harus berpengalaman mentransformasi perusahaan konglomerasi. Bayu pun ditawari posisi tersebut. Ia bertanggung jawab dalam pembuatan struktur organisasi baru (karena perusahaan dalam tahap merger BSD dan Duta Pertiwi), Key Performance Index (KPI) dan standard operating procedure (SOP) pertama.

Tugas manajer PMO memang tidak permanen. Oleh sebab itu, Bayu ditugaskan sebagai Head of Business Development for Emerging Business sekaligus Head of Marketing for Emerging Business. Walaupun anggota tim belum banyak pada saat itu, Ia memimpin Sinar Mas Land masuk ke bisnis baru selain core business-nya. Proyek yang mereka tangani antara lain, theme park, bisnis makanan dan minuman, facility business, dan fiber optic.

Petualangan Baru di Startup Grab dan GIG by Indosat Ooredoo

Sekitar dua atau tiga tahun kemudian, Bayu mencoba peruntungan di GrabTaxi (sekarang Grab) dengan menjadi Country Head of Business Development. Ketika ia bergabung, startup  ride-hailing asal Singapura itu masih kecil. Hari pertamanya dipenuhi dengan kejutan dan kebingungan.

Ia kaget melihat kantor GrabTaxi yang berupa ruko kecil di Benhill dan keadaan yang kacau dimana semua orang sibuk. Bayu yang sebelumnya hanya wawancara via Skype, memang belum pernah ke markas GrabTaxi. Belum pulih dari rasa kaget, ia dibuat bingung karena harus langsung bekerja tanpa training.

“Saya kaget, ternyata di startup, kayak GrabTaxi kita harus men-train diri kita dan mencari tahu apa aja yang ada di perusahaan. Ini menjadi tantangan tersendiri buat saya ya,” cerita pria yang pernah juga menjadi dosen manajemen strategis di Universitas Multimedia Nusantara.

Dari produk yang tadinya hanya GrabTaxi, lalu mereka meluncurkan GrabBike, dan GrabCar. Tim Bayu awalnya terdiri hanya dari 2 orang, menjadi terus bertambah. Di Grab ia mendalami tentang cara men-scale up bisnis―atau membuat bisnis naik kelas—dengan memperhatikan budaya lokal.

Idea important, but eksekusi juga penting. Bagaimana ide itu bisa dieksekusi dengan betul dan sesuai dengan local wisdom. Jadi bagaimana kita men-localize strategi yang ada di regional,” kata Bayu.

Setelah tiga tahun di Grab, melalui Parrish & Co, Bayu ditawarkan menjadi Commercial Director di Gig by Indosat Ooredoo (anak perusahaan Indosat Ooredoo). Ia diharapkan dapat mentransformasi agar lebih agile, digital dan cepat. Bayu pun kembali berhadapan dengan tantangan baru.

Target pribadi Bayu adalah menjadi CEO di perusahaan besar sebelum berusia 40 tahun. Ia juga ingin membuat sesuatu yang bisa mendisrupsi pasar.

Dari perjalanan karier Bayu Seto, kita bisa melihat pentingnya kemauan untuk belajar, keberanian, dan kegigihan bisa membawa kita “scale-up”. Peluang dan pengalaman berharga tidak selamanya seperti kado yang dibungkus rapi dengan kertas yang mahal. Bagi Anda yang berminat untuk meniti karier di bidang pengembangan bisnis maupun commercial, yuk tetap semangat!


Click here for executive career opportunities or vacancies at Parrish & Co.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *