Uncategorized

Mengintip Keseharian Talent Acquisition dari Bagus Hendrayono

Pekerjaan talent acquisition bisa dikatakan menantang sekaligus mendatangkan kepuasan tersendiri.
Menantang karena salah satu faktor pertumbuhan perusahaan ditentukan oleh kualitas orang-orang
yang dipilih. Sehingga, talent acquisition specialist tentu dituntut memiliki strategi kreatif untuk berburu
talenta. Di sisi lain, berkecimpung di talent acquisition memiliki keuntungan, seperti rasa puas dapat
membantu mengembangkan karier orang lain, berkenalan dengan berbagai macam orang dan memiliki
akses ke petinggi perusahaan. Lalu, bagaimana keseharian seseorang yang telah bertahun-tahun
menikmati tantangan dan kepuasan bekerja di bagian talent acquisition? Bagaimana cara seorang talent
acquisition specialist mempunyai work-life balance di tengah dinamika tersebut? Simak keseharian
Bagus Hendrayono, yang sejak 2005 telah menggeluti dunia rekrutmen, pernah memimpin Monroe
Consulting Group Indonesia pada tahun 2015-2018 dan saat ini, ia menjabat sebagai VP Talent
Acquisition Go-Pay, perusahaan tekfin (teknologi finansial) uang digital dari Go-Jek.

Menjalani Hari sebagai VP Talent Acquisition Go-Pay

Sebagai VP Talent Acquisition Go-Pay, Bagus Hendrayono bertugas untuk mendapatkan talenta yang
dibutuhkan perusahaan dan memperbaiki proses rekrutmen. Jadi, aktivitas sehari-harinya bisa diuraikan
seperti berikut,

7.30 – 9.00: Persiapan di Kantor
Kegiatannya di kantor dimulai di antara jam 7.30 – 9.00 pagi. Paling cepat, Bagus bisa tiba pada jam 7.30
(ketika kantor masih sepi). Namun, ketika kondisi jalanan macet, ia baru bisa tiba pada jam 9 00. Setelah
sampai, pria yang menyukai motor ini membuat to-do list untuk hari itu. Lalu, ia mulai mencari kandidat
dan melakukan pendekatan kepada kandidat.
10.00 – 11.00: Wawancara
Ketika hari beranjak siang sekitar jam 10.00 – 11.00, ia melakukan wawancara dengan calon yang
potensial.
Siang – Selesai: Rapat dan Monitoring
Biasanya juga ada beberapa rapat, layaknya makan. Dalam sehari, VP Talent Acquisition Go-Pay bisa
menghadiri minimal 3 rapat. Kemudian, ia memantau pekerjaan timnya. Jika ada hambatan, maka ia
akan membantu mencarikan solusi.
Perlu di highlight bahwa tidak ada jadwal yang pasti sama setiap hari (apalagi lingkungannya adalah
startup). Bisa saja ada pekerjaan yang tidak terduga muncul secara tiba-tiba.
Saat ini, sang kapten Talent Acquisition yang baru bergabung dengan Go-Pay sejak September 2018,
sedang beradaptasi dengan pekerjaan yang dihadapi dan dengan para punggawa Go-Pay. Saat di
Monroe, Bagus Hendrayono lah yang merekrut dan terlibat dalam perkembangan orang-orang yang

berada di satu level di bawahnya. Sementara ketika ia bergabung di Go-Pay, para karyawannya sudah
‘ada’ dan memiliki karakter yang beragam.

Keseharian Managing Director di Monroe Consulting Group Indonesia
Berbeda dengan pengalaman baru di Go-Pay, Bagus Hendrayono telah bekerja di Monroe Consulting
Group Indonesia selama 10 tahun. Sehingga, rutinitasnya di sana sudah mendarah daging. Dari segi
jenis aktivitas sebagai managing director di kala itu, ia lebih banyak menggodok strategi dan mengawasi
operasi bisnis. Karena pekerjaan banyak yang tersistem, maka Bagus lebih bertindak seperti “wasit”
yang mengawasi pertandingan. Jika ada masalah, ia akan turun tangan. Masalah yang mungkin datang,
antara lain konflik antara konsultan dengan kandidat, konsultan dengan user, dan masalah di luar proses
rekrutmen seperti, masalah keuangan, legal, audit dan lain-lain. Ia juga bekerja sama dengan direktur di
level regional.

Bagus Hendrayono on Work-Life Balance
Bagus Hendrayono mengakui bahwa ia masih mencari ‘ritme’ untuk mencapai work-life balance di Go-
Pay. Ia berpendapat bahwa keseimbangan itu lebih mudah didapat ketika kita telah berhasil
beradaptasi. “…when you’re still adjusting, we will spend more time, extra hours, compared to orang-
orang yang sudah lama.“

Work-life balance sebenarnya bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Bagus pernah mencapainya ketika
masih bersama Monroe Consulting Group Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk dunia talent acquisition,
menciptakan work-life balance tidak hanya dengan pengelolaan diri dari masing-masing individu, namun
perlu ditunjang oleh sistem yang baik.

Pria yang bersama timnya pernah menerima beberapa penghargaan di Monroe Consulting Group
Indonesia, menjelaskan, “One of the reasons we have the privilege of work-life balance di Monroe
adalah kita sudah punya a good system and a process… jadi orang itu bekerjanya enak, dalam artian,
Semua orang tahu apa yang harus dikerjakan, they know what to do and they know how to do. Itu basic-
nya. If you're working in the organization yang belum punya the right system or process, you will spend
more time in doing your job or completing your job. Kenapa? Karena kerjaan kalian tidak akan ter-
structured. Scattered. Sama seperti kalian pergi ke mall, pengen beli baju, tapi belum tau mau baju apa.
Yang ada kalian masuk dari satu toko ke toko lain, coba baju ini coba baju itu, coba merk ini, coba merk
itu. Tapi, kalau dari rumah sudah tahu ‘Oh, saya ke mall, beli baju hijau lengan panjang, merknya ini.’
Datang ke mall langsung ke tokonya, coba ukurannya, pas, bayar. Jauh lebih cepat prosesnya.”

Adanya rencana, tujuannya, sistem dan proses yang diketahui dengan baik, dan alur yang jelas itulah
yang menciptakan work-life balance.

Begitulah gambaran keseharian yang mungkin akan Anda lalui jika mengembangkan karir di bidang
talent acquisition. Jadi, sudah siap untuk menjelajahi dunia talent acquisition?


Click here for executive career opportunities or vacancies at Parrish & Co.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *