Uncategorized

Perbedaan Antara Gaya Kepemimpinan Startup dan Corporate

Revolusi industri 4.0 membuat perusahaan startup di Indonesia semakin menjamur. Sekarang, banyak lulusan fresh graduate hingga yang sudah berpengalaman kerja memilih untuk bekerja di startup. Namun, bukan berarti minat para job seekers untuk bekerja di korporasi menurun.

Startup dan korporasi sangat berbeda dalam segi budaya kerja. Lantas, apa saja perbedaan gaya kepemimpinan antara startup dengan korporasi? Berikut ini ulasan lengkapnya.

Beda startup dan korporasi
Perbedaan yang paling mendasar antara startup dan korporasi terletak pada ukurannya. Korporasi merupakan perusahaan yang sudah matang dan cukup lama berdiri, mempekerjakan ratusan hingga ribuan karyawan. Dikarenakan banyaknya jumlah divisi dan karyawan yang ada, maka tidak heran kalau sebuah korporasi memiliki lebih banyak level jabatan kerja yang bertanggung jawab langsung untuk setiap divisi perusahaan.

Sementara itu, startup merupakan perusahaan yang baru dirintis. Secara umum, startup menjawab kebutuhan pasar dengan menggabungkan pandangan bisnis dengan kemajuan teknologi digital. Walaupun terbilang baru dalam dunia bisnis, kiprah startup tidak boleh dipandang sebelah mata. Saat ini, sudah banyak startup yang mencapai level unicorn dan meraup kesuksesan besar.

Budaya kerja di dalam startup cenderung lebih fleksibel daripada di korporasi. Hal ini bisa dengan mudah dilihat dari atribut kerja para karyawannya. Orang yang bekerja di startup diperbolehkan untuk menggunakan pakaian kasual, sedangkan karyawan korporasi diwajibkan untuk berpakaian rapi dan formal. Secara garis besar, startup dipenuhi dengan pekerja dari generasi muda, sehingga hal tersebut tercermin dari budaya kerja dan gaya kepemimpinan mereka.

Interaksi dan komunikasi
Berbicara soal gaya kepemimpinan, interaksi dan komunikasi sangat membedakan startup dengan korporasi. Gaya kepemimpinan di korporasi cenderung lebih berwibawa, di mana otoritas yang dipegang oleh atasan terlihat sangat jelas.

Satu orang karyawan akan memiliki banyak atasan, mulai dari supervisor, manager, kepala departemen, hingga direktur perusahaan. Maka dari itu, diperlukan juga gaya kepemimpinan yang berafiliasi, artinya mengedepankan team building dan lingkungan kerja sama untuk mempererat hubungan antar divisi.

Gaya kepemimpinan yang karismatik dan transformatif akan lebih cocok untuk lingkungan kerja di startup. Berbeda dengan korporasi yang tidak memungkinkan karyawan untuk berdiskusi langsung dengan direktur atau founder, startup justru mendorong karyawannya untuk melakukan brainstorming bersama atasan selevel direktur.

Gaya kepemimpinan tersebut membangkitkan hubungan emosional antara karyawan dengan rekan kerja dan perusahaan. Komunikasi juga jadi lebih terbuka, sesuai dengan budaya kerja startup yang fast paced.

Cara menyampaikan pendapat
Korporasi lebih mengedepankan gaya kepemimpinan yang demokratis, yakni mengumpulkan konsensus terlebih dulu sebelum akhirnya menetapkan keputusan. Ketika Anda sedang berkutat dengan sebuah proyek, Anda akan diikutsertakan dalam berbagai macam rapat yang mengundang orang-orang dari divisi dan jabatan yang berbeda. Diawali dengan rapat tim internal, kemudian lanjut ke rapat dengan kepala departemen, lalu hasil rapat harus disetujui kembali oleh direktur.

Semuanya harus dilakukan secara sistematis untuk mencegah terjadinya kesalahan. Gaya kepemimpinan seperti ini akan terkesan bertele-tele bila diimplementasikan dalam sebuah startup, tetapi cukup efektif untuk korporasi yang memegang berbagai lini produk atau jasa.

Di dalam startup, Anda memiliki hak yang sama seperti para manajer untuk menyuarakan pendapat, asalkan Anda memang memiliki keterampilan yang mumpuni dan mampu mempertanggungjawabkannya.

Gaya kerja kolaborasi dan hierarkis
Baik startup maupun korporasi fokus pada gaya kerja kolaborasi. Akan tetapi, korporasi sudah membagikan tugas dan kewajiban masing-masing karyawan secara mendetail. Sifatnya yang hierarkis ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih stabil, memberikan hasil kerja yang optimal, dan menghasilkan rutinitas kerja.

Misalnya, divisi digital marketing di sebuah korporasi akan mengurus aktivitas website dan media sosial perusahaan secara rutin, tanpa perlu diminta kembali. Bila sebuah produk baru akan diluncurkan, maka divisi digital marketing akan bekerja sama dengan divisi terkait untuk merancang kampanye marketing secara masif, tentunya juga melibatkan Direktur sebagai bentuk persetujuan.

Sedikit berbeda, startup juga mengusung gaya kerja yang sama tanpa embel-embel hierarkis. Anda harus siap untuk diminta melakukan pekerjaan yang sebetulnya bukan jadi tanggung jawab jabatan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *