Uncategorized

Work from Home pada Karyawan, Efektif atau Tidak?

Wabah Corona atau yang lebih dikenal dengan istilah Covid-19 telah membuat banyak kegiatan bisnis dan perkantoran dilakukan secara remote. Meski banyak pro kontra yang mengiringi, nyatanya banyak pekerja yang senang dengan sistem ini. Tapi, bagaimana dengan efektivitas performa karyawan saat Work from Home?

Produktivitas yang Naik, Benarkah?

Sebuah riset yang dilakukan oleh AirTasker, sebuah perusahaan yang berbasis di Australia, menyebutkan, karyawan yang bekerja dari rumah, atau yang lebih populer disebut dengan remote working, mengaku lebih produktif untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena mereka memiliki waktu yang lebih lama untuk beristirahat.
Benar, remote workers memiliki jam kerja yang lebih fleksibel, jika dibandingkan saat bekerja di kantor. Saat bekerja di rumah, seorang karyawan tidak terpaku pada waktu. Yang penting, tugas dan tanggung jawabnya berhasil diselesaikan. Ini berbeda saat berada di kantor, yang mana setiap aktivitas telah masuk dalam jadwal, termasuk jam istirahat.
Riset oleh AirTasker yang melibatkan lebih dari 1,000 orang karyawan tetap menghasilkan angka-angka yang mengejutkan. Salah satunya adalah pekerja yang Work From Home memiliki waktu istirahat lebih lama beberapa menit, dibanding saat mereka bekerja di kantor. Tapi, fakta ini memang akan berimbas pada total jam bekerja selama ia berstatus sebagai remote worker.
Secara hitungan matematika, karyawan remote menghabiskan 1,4 hari lebih lama dalam sebulan dalam bekerja. Tentu saja, ini disebabkan oleh faktor jam istirahat yang bertambah itu. Rupanya, responden yang sebagian adalah millennials tidak mempermasalahkan lama mereka bekerja di rumah, asalkan mendapatkan waktu istirahat yang lebih lama. Hal ini memang terbukti dapat mempengaruhi produktivitas mereka.

Bagaimana Hubungan dengan Boss saat Work From Home?

Masih dari hasil survei yang dilakukan AirTasker, rupanya bekerja dari rumah atau remote working tak sepenuhnya bebas dari pantauan ‘si boss’. Ada fakta menarik yang diungkap dari survei itu. Sekira 70% responden berpendapat bahwa ‘si boss’ lebih talkative saat karyawannya mengerjakan tugas-tugas dari rumah. Artinya, pekerja justru lebih mendapat tekanan, meski tidak secara face-to-face. Dengan begitu, kesan bermalas-malasan saat Work From Home tidak sepenuhnya benar.
Bagi sebagian orang, mungkin Work From Home adalah sebuah idaman. Nyatanya, remote working tak sepenuhnya bisa terbebas dari ‘si boss’. Lebih dari 40% responden menyatakan, mereka tetap merasa stress saat sedang bekerja di rumah. Penyebabnya tak lain adalah ‘si boss’ yang justru lebih menekan. Kalau sudah begini, apa kamu masih mengidam-idamkan Work From Home?
Kamu akan tercengang dengan fakta yang satu ini: lebih dari 25% responden menyatakan bahwa mereka akan resign dari kantor, dengan pertimbangan utama teman atau boss yang toxic. Meski sudah bukan menjadi hal baru, nyatanya hubungan yang tidak sehat ini juga bisa terjadi saat remote working berlangsung.

Balancing Act

Tanpa adanya kantor atau tempat yang biasa digunakan untuk bekerja, garis perbedaan antara kehidupan personal dan pekerjaan menjadi tidak jelas. Dengan kata lain, karyawan yang melakukan remote working memiliki keseimbangan kehidupan dalam bekerja yang lebih buruk. Tidak kurang dari 30% pekerja remote berusaha untuk tetap menemukan ‘gaya bekerja’ yang tepat, dan ternyata 23% karyawan kantor juga mengalami hal yang sama.
Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya hampir tak ada perbedaan antara performa seorang karyawan yang bekerja di kantor dan remote. Mereka sama-sama kesulitan untuk mencari keseimbangan ‘hidup’, hidup sebagai pekerja, dan hidup sebagai seorang personal. Faktanya, mereka juga sama-sama tetap stress dengan tekanan atasan. Bekerja di rumah atau di kantor, tetap ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Fakta Menarik

Memang, Work From Home tidak seindah yang dibayangkan banyak orang. Meski berada di rumah, seorang karyawan tetap harus menyelesaikan tugas-tugasnya. Belum lagi, mereka harus menyesuaikan ‘suasana’ baru-nya. Meski demikian, ada satu fakta menarik tentang karyawan yang bekerja dari rumah.
Riset yang dipublikasikan oleh AirTasker menyebut, pekerja atau karyawan remote memiliki kesempatan melakukan exercise atau olahraga ringan yang dapat membuatnya lebih sehat. Mereka rata-rata melakukan olahraga ringan atau latihan fisik selama dua jam 44 menit setiap minggunya, yang mana lebih lama 24 menit setiap minggunya daripada saat berada di kantor.
Olahraga ringan dan pola makan yang bergizi adalah hal yang cukup vital bagi kesehatan karyawan, yang mana sangat berpengaruh pada performa mereka dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Jadi, mana yang kamu pilih, tim kerja dari kantor atau tim kerja dari rumah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *