Uncategorized

Perbedaan antara Konselor Kesehatan Mental dan Psikolog Klinis

Kita akan membahas perbedaan Konselor Kesehatan Mental dan Psikolog Klinis. Jika seseorang depresi, mempunyai masalah kecemasan atau masalah kesehatan mental lainnya, siapa yang bisa membantu? Profesi-profesi di bidang psikologi secara sepintas tampak mirip, termasuk psikolog klinis dan konselor. Konselor dan psikolog klinis memang memiliki persamaan. Keduanya menangani masalah kesehatan mental dan melakukan riset. Dalam bekerja, baik psikolog klinis dan konselor menggunakan psikoterapi, berbicara kepada klien, membuat klien menguraikan perasaan serta  pengalaman mereka.

Lalu, apakah perbedaan profesi konselor kesehatan mental dan psikolog klinis? Mengetahui perbedaannya akan membantu Anda untuk menentukan karier yang akan ditempuh.

Konselor Kesehatan Mental

Konselor berasal dari kata Latin ‘conselere’, yang berarti memberikan saran. Konselor kesehatan mental biasanya menangani isu emosional, sosial, fisik klien yang muncul akibat stres atau masalah yang berkaitan dengan pekerjaan, sekolah atau keluarga. Contoh isu yang biasa dihadapi oleh konselor adalah masalah hubungan, kesulitan beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan dan penyalahgunaan obat-obatan. Konselor memiliki keterampilan untuk membuat orang lain merasa nyaman untuk terbuka dan dapat menyelesaikan masalahnya. Pekerjaan dan ketrampilan ini sebenarnya juga terdapat pada psikolog klinis, namun konselor lebih klien-sentris, fokus pada well-being daripada diagnosis patologi.

Konselor mendapat pelatihan tentang multikulturalisme dan pendidikan yang lebih holisme (holistic). Untuk menjadi konselor kesehatan mental, mengambil jurusan psikologi bukan hal yang wajib. Jika mempunyai pengalaman konseling, perusahaan juga menerima konselor dari lulusan dari jurusan sosiologi, antropologi, dan manajemen.

Konselor umumnya bekerja di lembaga pendidikan, perusahaan dan pusat rehabilitasi. Konselor juga dapat membuka praktik sendiri.

Psikolog Klinis

Klinis berasal dari kata Yunani ‘kline’, yang merujuk kepada perawat medis yang diberikan di sisi “tempat tidur” pasien. Namun bukan berarti penerapan psikologi klinis hanya terbatas pada penanganan gangguan mental individu. Psikologi klinis juga dapat digunakan pada sesi terapi kelompok.

Dari segi pendidikan, psikolog klinis harus menempuh pendidikan di jurusan psikologi. Setelah menyelesaikan S1 psikologi, calon psikolog klinis harus menempuh pendidikan profesi. Dari segi kasus yang dikerjakan, psikolog klinis menangani gangguan mental yang berat seperti depresi yang parah, bipolar dan schizophrenia. Ketika berhadapan dengan klien, psikolog klinis fokus pada psikopatologi atau gejala, tekanan dan gangguan jiwa. Berbeda dengan konselor yang lebih menekankan fungsi konseling, psikolog klinis boleh memberikan diagnosis patologis. Psikolog klinis umumnya bekerja di rumah sakit dan fasilitas kesehatan mental. Sama seperti konselor, psikolog klinis juga dapat membuka praktik sendiri.

Pilihan yang Tepat

Setelah memahami perbedaan antara psikolog dan konselor kesehatan mental, Anda dapat menentukan jalur karier mana yang akan Anda tempuh sesuai dengan minat dan preferensi Anda. Menjadi seorang konselor atau pun psikolog klinis, Anda akan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain.

Parrish & Co.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *